Hei kamu! mulutmu tidak benar-benar berbicara meskipun aku tau setiap ia tersenyum itu tulus. Hei kamu! Lagu-lagumu itu sama seperti yang dia nyanyikan, aku tau kamu mengelak tapi bukan di situ intinya. Hei kamu! selalu berkata bla bla bla dan kamu melakukan da da da. Hei kamu! selalu meminta pertimbangan tapi tidak kamu pertimbangkan. Hei kamu! mulutmu berkata biasa tapi matamu berkata istimewa. Hei kamu! mulutmu berkata teman, hatimu menanti lebih.
Lalu aku. Aku tidak benar-benar mengerti aku, apalagi kamu. Jadi tidak perlu kamu mengerti aku. Aku. Sangat labil dan pemain emosi. Aku benci dipaksa, sangat benci namun aku butuh dipaksa. Aku. Selalu berusaha membiarkan kamu dan mereka memilih jalan masing-masing ketimbang memberikan pertimbangan-pertimbangan yang akhirnya tidak akan dipertimbangkan. Aku. Lebih suka sendiri dan menyimpan apapun sendiri, jika itu berhubungan dengan aku. Aku. Lebih suka mengahbiskan waktu memandangi langit dan awan daripada memandangi manusia berlalu lalang. Aku. Lebih suka mendengar kisah daripada menceritakan kisah. Aku. Lebih suka sendiri saat emosiku tidak stabil. Aku. Lebih memilih menangis saat meluapkan emosi.
Itu aku dan kamu. Kita tidak akan selamanya seperti ini. Aku akan selamanya belajar. Menjadi aku yang mengerti tentang aku, dan kamu.
Katamu dunia ini luas, aku bisa jatuh cinta berkali-kali dengan banyak lelaki. Itu katamu. Katamu lebih baik aku berpikir tentang masa depan dan tidak stuck dengan pemikiran sempit. Ya, itu katamu. Tapi kamu tau? Aku juga mengerti betapa luas dunia ini, tapi tidak mengerti kenapa aku berkali-kali jatuh cinta pada lelaki yang sama di saat yang sama aku juga tersakiti oleh lelaki yang sama. Orang yang tepat di waktu yang tidak tepat.
Kamu selalu berkata, aku adalah wanita yang baik. Wanita yang amat baik. Menjaga diri, satu-satunya tempat kamu bisa meluapkan segalanya. Itu katamu. Aku hanya diam. Karena aku takut. Takut yang tidak dapat dijelaskan.
Katamu, kamu selalu nyaman bersamaku. Aku diam. Aku selalu diam. Karena aku takut. Aku diam karena aku takut jatuh cinta (lagi) denganmu yang merupakan miliknya. Berusaha mengabaikannya dengan tetap bertahan dengan “kita” tapi kedekatan yang semakin dekat itu tidak baik untuk hatiku. Saat seperti ini yang aku butuh hanya jarak. Mungkin.
Source: i-ate-your-brainYa Allah, look at his face.. he’s so brave.. may Allah bless him all the way ♥
H : “Hei, kamu jalan sendiri di alun-alun?”
K : “Iya…”
H : “Yaah, selamat bermalam mingguan ya… kok sendiri sih”
K : “Ya yang mau diajakin malam mingguan ga bales2 sms tadi”
H : “Maaf2 tadi nggak ada sinyal, ini baru keluar rumah baru ada sinyal, yaudah nanti kita cari waktu lagi, kan kemarin lusa udah malam jumatan sama aku :D”
K: “malem jumat loh ya, udah kayak cari pesugihan aja :D”
Tapi malam itu begitu indah dalam kesederhanaan. Ketika yang lain memilih duduk di kursi mewah, kamu dan aku memilih untuk duduk di atas rumput. Ketika yang lain makan malam dengan lilin berpijar di atas meja dan lampu mewah di dinding ruangan, kamu dan aku memilih untuk duduk makan malam di bawah sinar bulan. Berbeda. Sederhana. Tapi itu sungguh manis. :)